Aksi Bom Guncang Pemilu Pakistan

Aksi bom bunuh diri terjadi di salah satu tempat pemungutan suara (TPS) di Kota Quetta, Provinsi Balochistan, kemarin. Sejauh ini, 27 orang dilaporkan tewas dan 30 lainnya terluka dalam insiden yang menodai pemilihan umum Pakistan itu.

Jumlah korban pun diprediksi meningkat. Hashim Ghilzai, pejabat administrasi di Quetta, mengatakan pelaku pengeboman mencoba masuk ke TPS. “Saat polisi menghentikannya, dia meledakkan diri,” ujar Ghilzai seperti dilansir SkyNews, kemarin.

Inspektur Kepolisian Kota Quetta, Naseeb Ullah, mengatakan belum mengetahui motif dan penyebab ledakan. Dia mengatakan polisi masih terus menyelidiki aksi bom bunuh diri tersebut. Kelompok teror Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Tapi klaim itu belum dapat diverifikasi secara independen. Puluhan juta warga Pakistan datang ke bilik suara TPS dalam pemilu Pakistan yang digelar kemarin. TPS dibuka di lebih dari 85 ribu lokasi di Pakistan pada pukul 08.00 dan ditutup pukul 18.00 waktu setempat.

Pejabat militer mengatakan lebih dari 370 ribu tentara dan 800 ribu polisi dikerahkan di seluruh pelosok untuk memastikan pemilu berlangsung “adil dan bebas”. Sumera Khanum, 36 tahun, warga di Peshawar, mengatakan pemilu ini merupakan yang ketiga kalinya ia ikuti. “Ada rasa takut, tapi kami harus keluar rumah dan memilih,” katanya.

Amina Shams, 26 tahun, seorang mahasiswa yang memberikan suara untuk pertama kalinya, mengatakan, “Kami ingin membawa perubahan bagi para pemuda.” Berbagai hasil survei memprediksi terjadi persaingan ketat di antara dua kubu utama.

Persaingan itu melibatkan Tehreeke-Insaf Justice Party yang dipimpin mantan atlet kriket, Imran Khan, dengan Partai Pakistan MuslimLeague-Nawaz yang dipimpin Shabahz Sharif, adik bekas Perdana Menteri Nawaz Sharif.

Nawaz saat ini berstatus terdakwa kasus korupsi dan mendekam di penjara. Khan dan Shahbaz mengutuk ledakan di Quetta. “Pakistan harus mengalahkan desain teror-is dengan keluar dalam kekuatan untuk memberikan suara mereka,” begitu cuitan Khan lewat Twitter.

Sedangkan Shahbaz mencuit: “Hati ini hancur mengetahui kesyahidan orang-orang yang tidak bersalah, termasuk polisi. Belasungkawa bagi keluarga korban.” Menjelang pemungutan suara, muncul tuduhan bahwa militer secara diamdiam mendukung Khan.

Militer juga diduga menyokong pelbagai kampanye Khan. Dugaan kedekatan militer menuai reaksi negatif karena akan membangkitkan kembali memori kelam atas pemerintahan militeristik di Pakistan.

Namun Imran Khan berulang kali membantah tudingan tersebut. Dia mengutuk kandidat yang memanfaatkan isu tersebut untuk mencoreng jejak kampanyenya.