Berkarir dengan Skill Coding

Josh Hannaford tak pernah menyangka, perusahaan teknologi sebesar IBM mau menerimanya bekerja. Pria 21 tahun asal North Carolina, Amerika Serikat, ini mengaku cukup beruntung. Ia bisa bekerja di raksasa teknologi itu, meski tanpa bekal ijazah sarjana. Josh sebetulnya pernah mencoba berkuliah, tapi di tengah jalan keluar. Ia lalu mengikuti pendidikan di sekolah komunitas di kotanya dan mengambil spesialisasi ilmu komputer.

Dengan bekal sertifikat keahlian dari sekolah komunitas itulah ia melamar ke IBM. Dia menjadi tenaga ahli piranti lunak di perusahaan tersebut sebagai tenaga paruh waktu. Namun kini ia sudah mendapatkan tawaran pekerjaan tetap. “Upah yang saya terima dua kali lebih tinggi dari pekerjaan saya sebelumnya di toko sepatu,” ujarnya seperti dikutip CNBC Career. Tren lowongan pekerjaan untuk orang-orang seperti Josh belakangan makin banyak di Amerika Serikat.

Sejumlah perusahaan besar di bidang teknologi informasi membuka posisi bagi para calon pekerja yang tak punya latar belakang pendidikan formal atau ijazah dari universitas. “Yang dicari perusahaan saat ini adalah tenaga kerja yang punya keahlian spesifik, terutama di bidang teknologi,” tulis situs pencari pekerjaan ZipRecruiter dalam hasil risetnya yang dipublikasikan pertengahan Juli lalu.

Chief Executive Officer dan pendiri ZipRecruiter, Ian Siegel, mengatakan makin tingginya permintaan akan tenaga ahli dengan keahlian spesifik juga mendorong orang-orang yang sebelumnya sudah punya profesi lain mengambil pelatihan untuk memiliki sertifikat skill baru. “Skill yang paling banyak dicari saat ini adalah kemampuan coding, atau bahasa pemrograman untuk komputer.” ZipRecruiter mencatat, setidaknya ada 20 jenis bahasa pemrograman komputer yang kini paling dicari.

Beberapa di antaranya populer digunakan oleh perusahaan rintisan teknologi pembuat aplikasi telepon seluler maupun situs Internet, antara lain AngularJS, Jquery, HTML5, JavaScript, dan Python. Skill lain yang dicari adalah para perancang user interface, pengembangan produk, dan pengembangan piranti lunak. Sayangnya, menurut Ian, belum banyak lembaga pelatihan yang menyediakan program pelatihan skill coding untuk orang-orang seperti Josh.

Di Indonesia, minimnya tenaga ahli di bidang teknologi informasi juga terjadi. Pendiri sekolah coding khusus anakanak, Codingcamp.id, Kurie Suditomo mengatakan tren orang-orang yag berganti karier ke bidang teknologi informasi sebetulnya sudah terjadi sekitar 3-5 tahun lalu di banyak negara. “Termasuk di sini, tapi belum banyak terdengar.”

Menurut Kurie, permintaan tenaga di bidang teknologi informasi cukup unik. Pasalnya, perusahaan membutuhkan tenaga kerja yang punya keahlian spesifik. “Misalkan hanya perlu programer JavaScript.” Sementara para sarjana lulusan universitas komputer belum tentu menguasai program tersebut.

Kondisi ini diperparah dengan karakter perusahaan TI yang hanya mau terima tenaga kerja siap pakai. “Artinya mereka tak mau mendidik karyawan barunya untuk menguasai satu bidang.” Jadi, kata Kurie, ada gap besar antara materi yang didapat mahasiswa di kampus, sementara perusahaan juga enggan mendidik karyawan.

“Maka wajar muncul sekolah-sekolah coding baru yang diburu orang untuk mengasah skill-nya.” Hal ini lah, ujar Kurie, yang membuat industri teknologi informasi tak lagi mementingkan ijazah calon karyawannya. “Yang diminta perusahaan pada calon karyawan adalah portofolio karya-karya yang pernah dibuat.”

Perusahaan penyedia informasi lowongan pekerjaan khusus di sektor teknologi, Ekrut, mencatat ada sekitar 500 perusahaan rintisan berbasis teknologi (start-up) Tanah Air kekurangan tenaga ahli. Ekrut mencatat, di Indonesia keahlian yang paling banyak dicari, di antaranya back-end engineer, front-end engineer, mobile engineer, full stack engineer, dan devops engineer. “Permintaan tenaga kerja tenaga ahli TI sepanjang semester I/2018 meroket sepuluh kali lipat dibanding tahun lalu,” ujar Chief Operating Officer Ekrut Ardo Gozal dalam keterangannya, 14 Juli lalu.

Setidaknya, ada seribu posisi baru yang terbuka bagi para tenaga kerja dengan keahlian di bidang ini. Sedangkan pertumbuhan ketersediaan profesional di bidang TI bergerak lebih lambat dengan hanya tumbuh dua kali lipat dari periode sebelumnya. Ardo menyatakan ekosistem digital di dalam negeri tumbuh begitu pesat dalam setahun terakhir.

Hal tersebut turut mendorong berbagai perusahaan rintisan teknologi meningkatkan aktivitas perekrutan tenaga TI. “Penetrasi Internet yang terus meluas dan menjangkau makin banyak masyarakat membuat perusahaan teknologi membutuhkan makin banyak tenaga kerja.”