Instrumen Moneter Sbi Rentan Bergejolak

Bank Indonesia melakukan reaktivasi instrumen moneter Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk tenor 9 dan 12 bulan. Lelang yang dimulai pada Senin lalu telah menghasilkan penawaran total senilai Rp 14,2 triliun. Bank sentral Indonesia menyampaikan, dari hasil total penawaran dalam lelang tersebut, yang dimenangi mencapai Rp 5,975 triliun. “Tidak kami obral semua penawarannya,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter, Nanang Hendarsyah, di kantornya, kemarin.

Nanang merinci setiap tenor. Tenor 9 bulan dimenangi sebesar Rp 4,18 triliun dan 12 bulan sebesar Rp 1,79 triliun. Adapun imbal hasil yang diberikan adalah 6,25 persen untuk SBI tenor 9 bulan dan 6,35 persen untuk SBI tenor 12 bulan. “Setiap bank memiliki ekspektasi suku bunga yang diinginkan, kemudian kami menghitung berapa imbal hasil yang tepat sesuai dengan term structure operation moneter (TSOM) 12 bulan, jadi bukan angka fix,” ucapnya.

baca juga : http://forgotten-wars.com/brand-genset-silent-berkualitas/

SBI bukan instrumen baru di Bank Indonesia. Instrumen ini terakhir diaktifkan pada Desember 2016 dengan ketentuan minimum holding period 1- 6 bulan. Dalam reaktivasi kali ini, bank sentral memutuskan menerapkan minimum holding period selama tujuh hari setelah masa pembelian. “Jadi setelah dibeli tidak bisa langsung diperjualbelikan di pasar sekunder, harus ditahan dulu selama seminggu, ini supaya lebih menarik bagi investor dan tetap likuid,” kata Nanang.

SBI berbeda dengan instrumen Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI). Sertifikat Deposito transaksinya dapat dilakukan pihak domestik dan asing. “Kami ingin menyediakan lebih banyak variasi dan alternatif instrumen di pasar keuangan agar pelaku pasar bisa memiliki pilihan apakah menanamkan di saham, SBN, dan sekarang ada SBI,” kata Nanang.

Dia mengatakan BI rencananya melakukan lelang SBI secara reguler setiap bulan. “Kalau instrumen bervariasi akan menambah outlet,termasuk arus modal asing yang masuk (capital inflow). Terlebih dari sisi suku bunga acuan juga sudah meningkat, sehingga akan semakin menarik, tapi tidak dimaksudkan untuk berkompetisi dengan instrumen yang ada saat ini.”

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance, Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan, di satu sisi, SBI memiliki risiko karena sifatnya sebagai instrumen portofolio. “Dana asing yang masuk sifatnya rentan untuk keluar lagi jika terjadi gejolak berlebih di ekonomi global karena karakter investasi portofolio yang easy in dan easy out.”

Menurut Bhima, dengan adanya SBI, Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah akan berkurang daya tariknya, sehingga terdapat potensi perebutan dana di antara keduanya. “Karena yield spread dengan treasury bond naik, kepemilikan asing di SBN cenderung menurun.

Jika perebutan dana terjadi, dikhawatirkan pemerintah akan memberikan kupon yang lebih mahal, meskipun credit rating cukup bagus.” Ekonom PT Bank Central Asia (Tbk), David Sumual, membenarkan bahwa tarik-menarik di antara kedua instrumen itu bisa terjadi. “Ini lebih ke persepsi investor saja.

Sebab, mungkin kalau SBN dilihat lebih karena ada risiko fiskal dan kondisi APBN,” ujarnya. Peneliti ekonomi dari Asian Development Bank (ADB) Institute, Eric Sugandi, menambahkan, bank sentral perlu mencermati kondisi kas internal untuk membayar imbal hasil bunga SBI. “Karena patokannya menggunakan bunga acuan BI yang trennya meningkat, sehingga jadi beban liabilities jangka panjang,” ucapnya.

Adapun Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Loto Srinaita Ginting, menegaskan, reaktivasi SBI tak akan mengganggu target penerbitan SBN pemerintah. Kedua lembaga juga akan berkoordinasi mengenai periode penerbitannya.